Prosedur Perizinan ISP

Berlapisnya proses perizinan telekomunikasi bagi ISP sering kali membuat ISP ciut nyalinya untuk melakukan pengurusan. Sebagian belum berani mulai mengurus karena takut akan ada biaya siluman dalam kepengurusan yang jumlahnya besar, meskipun pihak Postel sendiri setiap melakukan sosialisasi selalu mengatakan bahwa biaya pengurusan izin adalah nol rupiah. .

Konfigurasi VPN PPTP pada Mikrotik

Ketika mengimplementasikan VPN, interkoneksi antar node akan memiliki jalur virtual khusus di atas jaringan public yang sifatnya independen. Metode ini biasanya digunakan untuk membuat komunikasi yang bersifat secure, seperti system ticketing online dengan database server terpusat.

Penetrasi Internet (daerah) masih bergantung ISP Ilegal

Di saat ISP-ISP besar berkonsentrasi pada pengembangan usaha di Jakarta, daerah bisa dibilang menjadi anak tiri. ISP yang melakukan operasi secara nasional dan melakukan penetrasi ke daerah-daerah jumlahnya tidak lebih dari jumlah jari tangan kita.

Ahai...saya Jatuh Cinta Lagi...

Anda sedang jatuh cinta? Selamat. Mungkin, dedaunan tiba-tiba lebih hijau dari biasanya. Atau, tanpa sadar, diri anda menjadi lebih bersinar. Jatuh cinta yang baik, kabarnya, membuat seseorang menjadi lebih hidup, lebih bersemangat, bahkan juga, lebih pengasih, lebih mudah memaafkan, dan lebih tegar menghadapi masalah.

Keunggulan ClearOS

Salah satu kelebihan ClearOs dibanding distro linux lain adalah adanya antarmuka grafis berbasis web. Dengan adanya webconfig ini maka segala pengaturan ClearOS dapat dilakukan dengan mudah. Admin tidak perlu menguasai perintah berbasis teks (CLI), semua dapat dioperasikan dengan sistem remote berbasis grafis.

Kamis, 07 Februari 2013

Membuat Nama Domain Sendiri di Server Lokal


Dahulu kala… disaat PC saya belum terhubung langsung dengan Internet, banyak teman yang bertanya (yang kebetulan melihat browser yang sedang saya buka) “komputermu terhubung internet ya?“. Ini karena pada address bar web browser yang saya gunakan terpampang tulisan http://www.namadomain.com. Ini yang dinamakan Virtualhost. Sebenarnya trik ini simpel sekali, berikut penjelasannya.
Kebutuhan :
  1. Web server Apache
  2. Sistem Operasi Windows
Langkah-langkahnya :
  1. Buka file httpd.conf menggunakan teks editor yag anda miliki.
  2. File tersebut terletak didalam folder conf, pada folder Apache anda.
    Misalnya, C:\WebServer\Apache\conf\httpd.conf.
    Klik kanan pada file httpd.conf > Open With… > Notepad.
  3. Cari baris : #NameVirtualHost *:80, lalu hilangkan tanda # dan rubah menjadi NameVirtualHost 127.0.0.1.
  4. Cari baris :
  5. #
    # ServerAdmin webmaster@dummy-host.example.com
    # DocumentRoot /www/docs/dummy-host.example.com
    # ServerName dummy-host.example.com
    # ErrorLog logs/dummy-host.example.com-error_log
    # CustomLog logs/dummy-host.example.com-access_log common
    #

    Lalu ubah menjadi :

    ServerName namadomain.com
    ServerAlias namadomain *.namadomain.com
    DocumentRoot C:/WebServer/www/folder-namadomain.com

    ServerName dummy-host.example.com,
    ErrorLog logs/dummy-host.example.com-error_log, dan
    CustomLog logs/dummy-host.example.com-access_log common
    dapat diabaikan.
  6. Buke file etc pada folder windows, menggunakan teks editor yang anda miliki.
  7. Lokasi file tersebut : C:\WINDOWS\system32\drivers\etc.
    Klik kanan pada file etc > Open With… > Notepad.
    Lalu tambahkan baris berikut ini,
    127.0.0.1 namadomain.com www.namdomain.com
  8. Restart / jalankan apache anda. Buka http://namadomain.com atau http://www.namadomain.com. Selesai.
Keterangan :
  1. ServerName namadomain.com
  2. Merupakan nama server utama website anda (bener gak sih penjelasannya? hehe).
    Wes manut sajalah, isikan dengan nama domain utama yang anda inginkan.
    Misalnya, opik.com
  3. ServerAlias namadomain *.namadomain.com
  4. ServerAlias merupakan nama alias/nama lain dari domain utama anda.
    Misalnya, www.namadomain.com.
    Tanda “*.“, artinya apapun karakter yang ada didepan namadomain.com (misal: www.namadomain.com, anu.namadomain.com, ini.namadomain.com), tetap akan mengantarkan anda ke halaman website namadomain.com
  5. DocumentRoot C:/WebServer/www/folder-namadomain.com
  6. DocumentRoot merupakan folder dimana file web anda berada.
Selamat, kini anda dapat membuat domain sesuka hati anda.
PS: Jikalau ada penjelasan tambahan atau teknik yang lain mohon dishare ya :D

sumber : http://opik.unitiga.com

Rabu, 06 Februari 2013

Aktifkan Modul PHP 5 Untuk Apache 2 di Ubuntu

Pada sistem operasi debian dan turunannya, instalasi Apache 2 dan PHP 5 sangat mudah dilakukan. Cukup dengan

sudo apt-get install apache2 php5

Dengan perintah ditas maka Apache 2 dan PHP 5 akan diinstall ke dalam sistem operasi dan juga langsung dikonfigurasi agar bisa bekerja sama.
Masalah yang sering terjadi adalah Apache tetap saja tidak mengenali PHP dan setiap mengakses file php lewat http maka Apache akan mengkonfirmasi apakah file PHP tersebut ingin diunduh apa tidak. seperti tampak pada gambar berikut :

Hal ini bisa disebabkan terjadinya error pada saat instalasi, ataupun paket libapache2-mod-php5 yang diunduh sebelumnya rusak.
Agar PHP 5 yang sudah diinstall tadi bisa bekerja sama dengan Apache 2 maka PHP 5 harus dikonfigurasi ulang dan paket libapache2-mod-php5 dibuang terlebih dahulu. Untuk melakukannya bisa mengikuti langkah - langkah berikut:

sudo a2dismod php5

Non aktifkan modul PHP5 yang sudah diaktifkan sebelumnya.

sudo /etc/init.d/apache2 force-reload

Reload Apache 2, untuk membuang modul PHP5 dari konfigurasinya.

sudo apt-get remove libapache2-mod-php5

Buang paket libapache2-mod-php5 dari sistem operasi

sudo apt-get clean

Perintah ini akan membuang paket - paket yang sudah didownload sebelumnya dari cache apt-get. Jadi untuk instalasi berikutnya tidak mengambil paket dari cache tapi akan langsung dari repository.

sudo apt-get install libapache2-mod-php5

Perintah ini akan menginstalasi kembali paket libapache2-mod-php5

sudo a2enmod php5

Aktifkan kembali modul php5 untuk Apache 2

sudo /etc/init.d/apache2 force-reload

Reload Apache 2, untuk mengaktifkan konfigurasi modul Apache 2
Dengan menjalankan perintah - perintah diatas maka Apache 2 akan mengenali PHP, dan mengeksekusi PHP jika ada request ke file PHP dari http.

Catatan:
a2enmod adalah aplikasi yang digunakan untuk mengaktifkan modul - modul di Apache 2 dan bisa digunakan untuk mengaktifkan modul - modul lainnya seperti mod_rewrite, mod_proxy dan lain - lain. Aplikasi ini hanya ada di sistem operasi Debian dan turunannya.

a2dismod adalah aplikasi yang digunakan untuk menonaktifkan modul - modul yang sudah aktif di Apache 2. Sama sperti a2enmod aplikasi ini dapat digunakan untuk menonaktifkan modul - modul yang lain dan juga hanya tersedia untuk sistem operasi Debian dan turunannya

sumber : http://dollyaswin.net/blog/aktifkan_modul_php_5_untuk_apache_2_di_ubuntu

Jumat, 27 Agustus 2010

Keunggulan IP Camera

IP camera kini menjadi pilihan banyak orang, menggeser fungsi Closed-Circuit Televison (CCTV) saat ingin memantau ruang.
Jaman dulu, banyak orang yang memilih Closed-circuit Televison (CCTV) sebagai piranti utama saat ingin memantau ruang. Meskipun saat ini masih banyak yang menggunakannya, teknologi CCTV ternyata boleh dibilang sudah uzur. Penggantinya, tentu saja perangkat kamera pantau yang lebih canggih dan punya cara kerja yang sama sekali berbeda. Mau tau siapa saja mereka dan bisa difungsikan sebagai apa, simak terus artikel ini.
Jika ditugasi memilih perangkat pemantau ruangan dan diberi 3 pilihan antara CCTV, Web Camera (Webcam), dan IP Camera (Internet camera), mana yang kira-kira Anda pilih? Bila pertimbangannya adalah biaya, bisa jadi CCTV merupakan pilihan utama. Ya, piranti satu ini memang paling populer karena dari sisi investasi membutuhkan biaya yang relatif rendah. Betapa tidak, CCTV hanya membutuhkan kabel dan pesawat televisi biasa untuk bisa beroperasi. Mungkin tambahan perekam video, jika pengguna ingin menyimpan situasi ruang yang ingin diawasi.
Tetapi lain ceritanya jika yang dibicarakan adalah masalah investasi jangka panjang, keandalan, dan fleksibilitas. Ketiganya hampir tidak dimiliki oleh perangkat CCTV standar, tetapi merupakan kelebihan yang dimiliki Webcam dan IP Camera. Masalahnya, apakah mungkin sebuah Webcam digunakan di ruang terbuka sebagai perangkat pengawas yang harus beroperasi 24 jam?
Nah, jika sudah begitu, pilihan terakhir tentu saja jatuh ke IP Camera.Investasi awal di sisi biaya memang lebih tinggi dibanding CCTV atau Webcam. Tetapi jika yang dicari investasi jangka panjang serta teknologi yang bisa digunakan sampai 10 tahun ke depan, maka IP Camera adalah jawabannya.
Supaya Anda bisa ikut merasakan kehebatan IP Camera, di artikel ini kami tunjukkan bagaimana IP Camera bisa digunakan untuk memantau aktivitas melalui perangkat mobile semisal ponsel atau PDA lewat jaringan 3G atau 3,5G. Selain itu, dengan IP Camera, Anda tidak hanya bisa sekadar memantau ruang atau wilayah, tetapi bisa juga membuat "stasiun" televisi live yang bisa dilihat oleh keluarga atau kerabat di seluruh belahan dunia.
Memfungsikan IP Camera Sebagai Remote Surveillance
Sesuai fungsinya, IP Camera memang seharusnya digunakan untuk melakukan pemantauan terhadap area atau ruang tertentu. Meskipun demikian, bukan berarti Anda harus selalu berada di tempat yang sama ketika sedang memantau. Beberapa IP camera sudah dibekali fitur khusus yang memungkinkan penggunanya melihat tampilan video tidak lagi di PC melainkan di perangkat mobile seperti ponsel, smartphone, atau PDA.
Nah, kami akan menunjukkan bagaimana membuat sendiri sistem remote surveillance dari kamera IP. Sebagai contoh, kami mengunakan kamera D-Link DCS-3420 yang disambungkan ke jaringan kabel dengan akses Internet melalui jalur Telkom Speedy. Kamera ini sebenarnya memiliki fasilitas streaming Internet. Tetapi kami ingin menunjukkan kepada Anda bagaimana membuat sebuah "server" streaming menggunakan jenis kamera apapun, termasuk Webcam atau CCTV. Server ini nantinya bisa diakses melalui internet menggunakan browser di PC, ponsel, smartphone, atau PDA. Tentu saja koneksi Internet yang mumpuni dibutuhkan di sini. Jika ingin melihat hasil broadcast menggunakan perangakat mobile, ada baiknya Anda memilih koneksi 3G atau 3,5G.
Langkah konfigurasi
Artikel ini mengasumsikan Anda telah berhasil melakukan konfigurasi awal dari IP camera atau Webcam. Dalam hal ini kamera sudah siap atau bisa menampilkan gambar secara lokal di PC, sebut saja PC "A". Nah, PC "A" inilah yang akan kami jadikan server streaming menggunakan aplikasi WebCam XP 5 yang bisa diunduh di www.webcamxp.com. Menariknya, aplikasi ini bisa digunakan dengan cuma-cuma untuk pemakaian perorangan (broadcast 1 kamera).
1. Sambungkan Kamera Setelah berhasil diinstal, Anda akan melihat jendela utama WebCam XP terbagi seperti gambar di bawah. Untuk menyambungkan aplikasi ke IP Camera, klik kanan di area video source WebCam XP dan pilih Network Cameras -> Connect.
2. Pilih Kamera Selanjutnya WebCam XP akan membuka jendela Wizard, pilih kamera sesuai seri dan merek yang tersedia. Kebetulan, D-Link DCS-3420 kami cocok dengan pilihan kamera Vivotek seri 2000. Anda pun bisa mencoba sendiri dari merek - merek yang tersedia, jika seri kamera yang dicari tidak tersedia dalam pilihan.
3. Masukkan Konfigurasi Jaringan Jika sudah, jendela Wizard akan melanjutkan ke langkah berikutnya, yakni konfigurasi jaringan kamera. Masukkan semua informasi dari konfigurasi jaringan kamera Anda di sini. Tentukan juga resolusi video yang akan dibroadcast dan frame rate-nya.
4. Uji Konfigurasi Untuk memastikan settingan terekam dengan benar, coba klik tombol "Test" . Jika konfigurasi dilakukan dengan benar, maka Anda akan melihat jendela di bawah ini. Selanjutnya klik Ok di jendela Wizard untuk mulai menyambugkan kamera
5. Konfigurasi Broadcast Berikutnya adalah melakukan konfigurasi untuk server broadcast kamera Anda. Untuk melakukannya klik tombol "Web/Broadcast" di jendela utama (bagian kiri) WebCam XP.
6. Matikan Layanan Broadcast Di sini kita akan mengubah IP listening dari WebCam XP agar mengarah ke alamat IP lokal PC. Sebelumnya matikan dulu layanan broadcast dengan mengklik tombol "Disable" yang ada di kanan atas layar.
7. Ubah IP Listening Kemudian barulah Anda bisa mengubah alamat IP listening sesuai keinginan. Di sini kami menggunakan alamat 192.168.0.2 dan port 8080.
8. Aktifkan Layanan Broadcast Setelah itu kembali aktifkan layanan broadcast dengan mengklik tombol "Activate". Sampai sini sebenarnya IP Camera sudah bisa dilihat di browser manapun dalam jaringan LAN dengan mengetikkan alamat IP dari PC lengkap dengan port-nya (contoh: http://192.168.0.2:8080).
Jika akses lokal saja belum cukup, Anda bisa saja mempublikasikan IP Camera yang Anda miliki ke Internet. Untuk itu Anda harus melakukan konfigurasi untuk melewatkan akses dengan menggunakan fasilitas port forwarding yang ada di router atau modem ADSL. Untuk melakukan hal ini sesuai dengan merek dan seri router yang Anda miliki, silahkan kunjungi http://portforward.com/routers.htm.
Menggunakan WebCam XP ini juga berarti memanfaatkan IP Camera Anda bukan cuma sebagai pengawas ruang, tetapi sebagai perangkat kamera yang bisa membroadcast "siaran" televisi digital menggunakan protokol mms milik Windows Media Player.

Rabu, 18 Agustus 2010

Jejak Fariduddin Attar

Sekilas Riwayat Hidup

Jejak hidupnya tak terlalu banyak terungkap. Yang berhasil terekam, bahwa `Attar (1130-1220 M) termasuk seorang sufi dan sastrawan Persia terkemuka. Di kota kelahirannya, Nisyapur, ia masyhur sebagai seorang ahli farmasi dan saudagar minyak wangi yang kaya raya. Sesungguhnya, ia bernama asli Abu Hamid bin Abu Bakr Ibrahim. Julukan `Attar yang melekat pada dirinya diperoleh lantaran kepiawaiannya dalam bidang farmasi.

`Attar muda menimba ilmu kedokteran, bahasa Arab dan teosofi di sebuah madrasah (perguruan tinggi) yang terletak di sekitar tempat suci Imam Reza di Mashhad. Menurut catatan yang tertera pada buku yang ditulisnya Mosibat Nameh (Buku Penderitaan) , pada saat remaja dia bekerja di sebuah toko minyak wangi milik sang ayah. Setelah sang ayah wafat, toko minya wangi itupun berpindah tangan kepadanya.


Episode perubahan hidup `Attar dimulai sejak pertemuannya dengan seorang laki-laki tua. Laki-laki renta yang fakir, tak punya apapun selain jubah yang menempel di kulitnya yang keriput. Pak tua yang tergopoh-gopoh itu sekuat tenaga menghampiri bangunan megah, yang tak lain adalah toko `Attar. Menduga si fakir akan mengemis, `Attar pun segera bangkit dari tempat duduknya, menghardik dan mengusirnya agar pergi meninggalkan tokonya. Namun, si fakir berkukuh tak mau pergi dari tempat usaha `Attar. Lalu dengan tenang si fakir berkata pada `Attar, ''Tak sulit bagiku untuk meninggalkan tokomu ini, bahkan mengucapkan selamat tinggal kepada kemegahan dunia pun bagiku tak susah. Yang melekat di badanku hanyalah sehelai jubah yang lusuh ini. Aku justru merasa kasihan kepadamu, bagaimana kamu meninggalkan dunia ini dengan harta yang kamu miliki.'' `Attar tersentak, lalu menjawab spontan, "Bagiku juga tidak sukar meninggalkan duniaku yang penuh kemewahan ini!"

Belum usai `Attar menjawab, fakir tua renta itu roboh dan meninggal seketika. `Attar terperanjat. Sehari kemudian, setelah menguburkan fakir itu selayaknya, `Attar menyerahkan penjagaan toko-tokonya yang banyak di Nisyapur kepada sanak-saudaranya. Layaknya orang miskin tadi, dia sendiri mengembara ke seluruh negeri untuk menemui para guru tasawuf terkemuka, tanpa membawa uang satu peser pun. Beberapa negeri yang disinggahinya antara lain, Ray, Kufah, Makkah, Damaskus, Turkistan, hingga India . Di setiap syekh yang ditemuinya, `Attar mempelajari tarekat dan menjalani kehidupan di khaniqah (tempat-tempat berkumpul untuk latihan dan praktik spiritual). Sungguh perjumpaannya dengan si fakir telah mengubah jalan hidupnya.

Beberapa tahun kemudian, dalam usia 35 tahun, dia kembali ke tanah kelahirannya sebagai guru kerohanian yang masyhur. Dia melanjutkan lagi profesinya sebagai ahli farmasi dan saudagar minyak wangi, di samping memberikan latihan-latihan kerohanian dan membuka sejumlah sekolah. Kekayaannya semakin bertambah-tambah, seiring popularitasnya sebagai seorang sufi.

Di antara kepiawaian `Attar yang telah lama dikenal penduduk Nisyapur ialah kemahirannya bercerita. Cerita yang ia lantunkan umumnya berkisar buah pengalamannya menjelajahi hakikat hidup. Ia sering melayani pasien-pasien dan pelanggannya dengan bercerita sehingga memikat perhatian mereka. Di emmanfaatkan waktu luang di sela-sela bekerja dengan menulis cerita. Di antara karya `Attar yang terkenal ialah Mantiq al-Tayr (Musyawarah Burung), Thadkira al-`Awlya (Anekdote Para Wali), Musibat-namah (Kitab Kemalangan) dan Ilahi-namah (Kitab Ketuhanan). Semua karyanya itu ditulis dalam bentuk prosa-puisi yang indah, kaya dengan hikmah dan kisah-kisah perumpamaan yang menarik.

Ada sumber yang mengatakan, jumlah buku puisi yang ditulis `Attar mencapai 114 atau sama dengan jumlah surat dalam Alquran. Namun, studi yang lebih realistis memperkirakan puisi yang ditulis `Attar mencapai sembilan sampai 12 volume. Secara umum, karya-karya `Attar dapat dibagi ke dalam tiga kategori.

Pertama, puisi yang ditulisnya lebih bernuansa tasawuf atau sufistik yang menggambarkan keseimbangan yang sempurna. Kategori pertama ini dikemas dengan seni cerita bertutur. Kedua, puisi-puisi yang memuat tujuan untuk menyangkal kegiatan panteisme. Ketiga, puisi-puisi yang berisi sanjungan terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib.

Salah satu karya yang utama dari `Attar berjudul Asrar Nameh (Kitab Rahasia). Karya lainnya yang terkenal dari `Attar adalah Elahi Nameh tentang zuhud dan pertapaan. Kitab Asrar Nameh itu konon dihadiahkan kepada Maulana Jalaludin Rumi ketika keluarganya tinggal di Nisyapur dalam sebuah perjalanan menuju Konya .

Ada momentum pertemuan antara `Attar dan Jalal al-Din al-Rumi. Kala itu Rumi kecil diramalkan akan menjadi seorang tokoh besar dan terkenal. Ramalan itu ternyata benar-benar terbukti. `Attar meninggal dunia di usianya yang ke-70 tahun. Ia ditawan dan kemudian dieksekusi oleh pasukan Tentara Mongol yang melakukan invasi ke wilayah Nisyapur pada 1221 M. Kisah kematian `Attar memang simpang siur, dan masih sering berbaur antara legenda dan spekulasi.

Menurut sebuah cerita, `Attar dipenjara oleh tentara Mongol. Lalu seseorang datang dan mencoba menebusnya dengan ribuan batang perak. Namun, `Attar menyarankan agar Mongol tak melepaskannya. Tentara Mongol mengira penolakan itu dilakukan agar tebusan yang diberikan lebih besar. Setelah itu datang lagi orang lain yang membawa sekarung jerami untuk menebus `Attar. Kali ini `Attar meminta agar Mongol melepaskannya. Tentara Mongol pun marah besar dan lalu memotong kepala `Attar.

`Attar dimakamkan di Shadyakh. Makamnya yang megah dibangun Ali-Shir Nava'i pada abad ke-16. Sosok `Attar hingga kini masih tenar dan populer di Iran . Tak heran, bila makamnya banyak dikunjungi para peziarah.

Mantiq al-Thayr: Tujuh Pendakian Menuju Hakikat

Mantiq Al-Tayr (Musyawarah Burung) merupakan karya yang paling fenomenal dari Fariduddin `Attar. Kitab itu berisi pengalaman spiritual yang pernah dilaluinya untuk mencari makan dan hakikat hidup. `Attar menuangkan pengalamannya itu melalui sebuah cerita perjalanan sekawanan burung agar lebih mudah dimengerti.

Dengan gaya bertutur tinggi, kitab itu mengisahkan perjalanan sekawanan burung untuk mencari raja burung yang disebut sebagai Simurgh yang berada di puncak Gunung Qaf yang agung, terletak sangat jauh dari tempat mereka berada. Sebelum menempuh perjalanan berkumpulah segala burung di dunia untuk bermusyawarah. Tujuan mereka hanya satu yakni mencari raja. Dalam perjalanan itu, para burung yang dipimpin oleh burung Hud-hud harus melalui tujuh lembah (wadi).

Ribuan burung sedunia pun berangkat. Namun yang berhasil bertemu dengan sang Simurgh hanyalah 30 ekor saja. Tujuh lembah yang dikisahkan dalam cerita itu melambangkan tingkatan-tingkatan keruhanian yang telah dilalui `Attar selama berkelana mencari hakikat hidup.

Apa yang diceritakan di atas tak lain adalah simbol-simbol dunia mistik yang agung. Hudhud, yang merupakan burung kesayangan Nabi Sulaiman a.s., menjadi lambang guru sufi yang telah mencapai tingkat ma'rifat yang tinggi. Adapun burung-burung merupakan lambang jiwa atau roh manusia lapar akan Hakikat Ketuhanan. Simurgh sendiri melambangkan diri hakiki mereka dan sekaligus lambang hakikat ketuhanan.

Perjalanan yang melalui tujuh lembah ini merupakan lambang tahap-tahap perjalanan sufi menuju cinta ilahi. Masing-masing tahapan (maqam) menghadirkan pengalaman situasi (ahwal) jiwa/rohani. Uraian keadaan rohani yang disajikan `Attar menarik karena menggunakan kisah-kisah perumpamaan.

Secara simbolik, Mantiq al-Tayr menggambarkan bahwa jalan kerohanian dalam ilmu Tasawuf ditempuh melalui tujuh lembah (wadi), yaitu: lembah pencarian (talab), cinta (`isyq), makrifat (ma`rifah), kepuasan hati dan kebebasan (istighna), keesaan (tawhid), ketakjuban dan kebingungan (hayrat), kefakiran (faqr) dan hancur (fana`). Namun `Attar menganggap bahwa secara keseluruhan jalan tasawuf itu sebenarnya merupakan jalan cinta, dan keadaan-keadaan rohani yang jumlahnya tujuh itu tidak lain adalah keadaan-keadaan yang bertalian dengan cinta. Misalnya ketika seseorang memasuki lembah pencarian. Cintalah sebenarnya yang mendorong seseorang melakukan pencarian. Adapun kepuasan hati, perasaan atau keyakinan akan keesaan Tuhan, serta ketakjuban dan persatuan mistik (wahdatul wujud) merupakan tahapan keadaan berikutnya yang dicapai dalam jalan cinta. Satu persatu lembah-lembah itu memiliki kriteria-kriteria khas tersendiri.

Lembah thalab

Inilah lembah pertama yang harus dilalui seorang pencari dalam menjalani kehidupan spiritualnya. Aneka ragam godaan duniawi akan menghampiri dan itu harus bisa ditaklukkan. Para pencari diharuskan berjuang dengan gigih untuk mendapatkan cahaya ilahi yang didambanya dengan menghilangkan hasrat-hasrat duniawinya. Hasrat duniawi ini jangan diartikan dengan meninggalkan dunia sepenuhnya.

Melepaskan kecintaan pada dunia akan membuahkan keselamatan dari bahaya kehancuran diri dan sebagai labanya dapat menyaksikan cahaya kudus Keagungan Ilahi. Hasrat-hasrat murni kita dengan demikian juga akan berlipat ganda. Ikhtiar yang gigih untuk tidak terperdaya dengan hal-hal materiil akan menciptakan ketundukan total pada Kekasih. Tidak ada masalah lain baginya kecuali mengejar tujuan murni hidupnya dan dia pun tidak takut kepada naga-naga kehidupan, yaitu hawa nafsunya. Pada level ini, sang salik sudah keluar dari sekat-sekat dikotomis. Ia tidak lagi mempermasalahkan keimanan dan kekufuran, sebab dia telah berada dalam Cinta.

`Attar bertutur, "Apabila kau gemar memilih di antara segala sesuatu yang datang dari Tuhan, maka kau bukan penempuh jalan yang baik. Apabila kau suka memandang dirimu sendiri dimuliakan karena memiliki intan dan emas segudang, dan merasa dihinakan karena hanya memiliki setumpuk batu, maka Tuhan tidak akan menyertaimu. Ingatlah, jangan kau sanjung intan dan kau tolak batu, karena keduanya berasal dari Tuhan. Batu yang dilemparkan oleh kekasih yang setia lebih baik daripada intan yang dijatuhkan oleh seorang wanita perusak rumah tangga."

Pada lembah penyarian memang dibutuhkan usaha intensif dalam proses pencerahan spiritual. Perlu kesabaran lebih hingga akhirnya meraih hidayah (petunjuk jalan). Di samping, harus sekuat tenaga menguasai diri dan keluar dari jeratan hidup jasmani, yang menipu dan menyesatkan.

Lembah `Isyq

Setelah melalui lembah pertama, sang pencari harus menemukan cinta sejati dalam dirinya untuk dapat menghalau tangan hitam akal yang menutupi ketajaman mata batin. Hanya dengan mata batinlah para pencari kebenaran ini dapat melihat realita apa adanya. Mata hati tidak dapat dibohongi. Dalam kecintaannya, seorang pencari haruslah memiliki kesudian untuk mengorbankan apa-apa darinya demi yang diharapkannya yang dicintanya. Keikhlasan dalam berkorban menjadi parameter kebesaran cintanya. Sang penempuh benar-benar berupaya menyucikan diri dengan cinta, demi meraih ketersingkapan batin dari kungkungan bentuk formal yang menyelimuti. Dalam syair mistiknya, Rabi`ah al-Adawiyyah bersenandung:

Allah menutup hati makhluk-Nya dengan hijab yang halus

Para ulama' terhalang karena keluasan ilmunya

Para zahid terhijab karena ambisinya

Dan para hukamâ' tak mampu menembus karena kehalusan hikmahnya

Orang-orang arif dan para pecinta sejati alpa dari segala dinding

Hal itu karena mereka menempatkan kalbu sucinya dalam cahaya Ilahi

Dari situlah cinta sejati lahir. Yaitu ketika penglihatan batin memperoleh pencerahan dan mampu menembus bentuk zahir segala sesuatu sehingga mencapai hakikatnya yang terdalam. Karena dapat melihat dari arah hakikat, maka seorang pencinta dapat memiliki gambaran yang berbeda dari orang lain tentang dunia. `Attar sendiri mengingatkan:

Ketahuilah wahai yang tak pernah diberi tahu!

Di antara pencinta, burung-burung itu telah bebas

Dari kungkungan sangkarnya sebelum ajal mereka tiba

Mereka memiliki perkiraan dan gambaran lain tentang dunia

Mereka memiliki lidah dan tutur yang berbeda pula

Di hadapan Simurgh mereka luluh dan bersimpuh

Mereka mendapat obat demi kesembuhan mereka dari penyakit

Sebab Simurgh mengetahui bahasa sekalian burung

Lembah Ma`rifah

Dengan mata hati yang terbuka, seorang pencari dapat melihat jelas realita ciptaan-Nya. Dengan begitu kearifan akan menyertai kehidupannya. Jalan makrifat dapat dilalui dengan cara tata cara ibadah yang khusuk, dan latihan-latihan penempaan diri. Tentu setelah melalui jalan cinta.

Kearifan merupakan hasil yang diperoleh seseorang setelah memperoleh penglihatan batin yang terang, di mana ia mengenal dengan pasti hakikat tunggal segala sesuatu. Kearifanlah yang akan melestarikan kesadaran ilahiyahnya dari kealpaan jiwa berikut kelemah-lemahannya yang merintangi. Itu sebabnya mengapa kearifan tidak bisa disamakan dengan pengetahuan biasa. Pengetahuan biasa bersifat sementara, kearifan ialah pengetahuan yang abadi, sebab isinya ialah tentang Yang Abadi.

Nur (cahaya) akan bersinggah pada seorang yang mencapai makrifat, buah jerihpayah ikhtiyarnya, plus mendapat peringkat spiritual dalam mengenal kebenaran Ilahi. Mata orang arif terbuka kepada Yang Satu, bagaikan bunga tulip yang kelopaknya selalu terbuka kepada cahaya matahari. Dengan nur ini seseorang mendapat anugrah yang amat dahsyat. Karena nur adalah pengetahuan (`ilm). Pengetahuan di sini bukanlah sebarang pengetahuan, karena `ilm di sini langsung bersumber dari Sang Kekasih pujaan. Tentu saja hal itu akan diraih setelah benar-benar suci dari berbagai bentuk maksiat, yang bisa menjelma menjadi hijab bagi kesadaran rohani. Sebagaimana dituturkan Muhammad ibn Idris al-Syafî'î:

Dan guruku telah berwasiat kepadaku

Bahwa ilmu itu nur (cahaya)

Dan nur Allah tak akan dihadiahkan

bagi orang yang gemar durhaka

Lembah istighna'

Lembah ini merupakan tahapan yang harus dilalui para pencari yang sudah mampu menghilangkan nafsu untuk mendapatkan sesuatu dengan mudah atau dengan ikhtiar biasa. Dalam tingkatan ini kesibukan seorang pencari akan fokus pada hal-hal yang utama dan hakiki. Dia melihat segala seakan biasa, tanpa ada yang mengherankan.

Karena pandangan telah tercerahkan oleh kehadiran Yang Abadi, maka seseorang tidak pernah melihat ada yang baru atau ada yang lama di dunia ini. Lautan tampak sebagai setitik air di tengah wujud-Nya yang tak terhingga luasnya, dan dadanya selalu lapang sebab dia mengetahui bahwa rahmat Tuhan tidak akan pernah menyusut atau berkembang. Seseorang merasa puas dengan rahmat yang dilimpahkan Tuhan. Oragn seperti ini akan meninggalkan hal-hal sia-sia. Di dunia dia hanya tinggal bekerja, berikhtiar dan berusaha sesuai potensi dan pengetahuannya tentang sesuatu, dan hasil terpasrahkan penuh pada Yang Maha Rahman.

Menurut `Attar, tujuan ini tercapai hanya manakala seseorang melakukan kewajiban yang dipikulkan kepadanya tanpa beban. Segala kealpaan dan kelalaian terhadap agama harus diisi dengan keimanan yang teguh atau (haqq al-yaqin).

Berkenaan dengan makrifat para sufi biasanya juga menggunakan istilah lain untuk menggambarkan keadaan ini, yakni musyahadah, artinya penyaksian bahwa Tuhan itu satu. Musyahadah menjamin stabilitas jiwa dan pikiran seseorang, sebab benar-benar telah terpaut pada tali Yang Satu. Istilah lain yang digunakan para sufi untuk keadaan ini ialah haqq al-yaqin, yakni yakin secara mendalam bahwa kebenaran hakiki ialah Dia. Keyakinan seperti itu sudah barang tentu mendatangkan kepuasan rohani dan kebebasan daripada yang selain Dia. Jadi batas antara lembah makrifat dan lembah isytighna tidak begitu jelas.

Lembah tauhîd

Lembah keesaan murni ialah sebuah lambang wujud, di mana dalam jagat raya ini hanya ada satu wujud, yaitu wujud Tuhan. Segala wujud yang di alam yang tampak bervariasi ternyata bersumber dari hakikat yang sama. Cinta Yang Satu, rahman dan rahim, telah mengejawentah menjadi semesta kehidupan yang tampaknya terpecah-pecah, tersekat-sekat, saling berlainan, namun pada hakikatnya satu.

Lembah Hayrat

Di lembah ini sang pencari akan mengalami ketakjuban luar biasa karena semua menjadi serba terbalik. Siang jadi malam, malam jadi siang, semuanya serba berubah. `Attar memberi contoh "Kisah Seorang Putri Raja Yang Mencintai Hambanya". Hamba di sini melambangkan seorang salik yang tak memikirkan apa-apa lagi, yang penting mengabdi. Sang hamba benar-benar tenggelam dan hanyut dalam pengabdiannya hingga dia memancarkan keindahan luar biasa. Putri raja diam-diam jatuh cinta kepadanya, dan dengan dibius oleh dayang-dayangnya maka hamba itu pun dibawa ke peraduan sang putri, diberi minuman dan makanan lezat, dihidangi tari-tarian dan musik yang indah, sebelum keduanya beradu. Hamba tersebut mengalami semua itu antara sadar dan tak sadar, penuh kebingungan.

Lembah faqr

Inilah lembah terakhir dari sebuah pencarian. Ketika sampai pada level ini, sang pencari akan menemukan dirinya secara utuh. Yang ditemukannya hanyalah dirinya dan hakikat dirinya. Setelah tahap inipun sang pencari akan menemukan Simurgh yang tak lain adalah hakikat dirinya sendiri. Jiwa orang yang melewati ini telah penuh terisi oleh-Nya. Dengan demikian, sebesar apapun pengorbanan akan dilakukan demi Kekasihnya.

Lembah fanâ'

Inilah lembah terakhir dari sebuah pencarian. Ketika sampai pada level ini, sang pencari akan menemukan dirinya secara utuh. Yang ditemukannya hanyalah dirinya dan hakikat dirinya. Setelah tahap inipun sang pencari akan menemukan Simurgh yang tak lain adalah hakikat dirinya sendiri.

Manunggaling kawula Gusti atau Unio-mystica, wahdatul wujud mempunyai pengertian yang mirip bahkan sama dengan Fana' , yakni persatuan mistik. Keadaan ini disusul dengan baqa', yaitu satu kondisi dimana eksistensi salik telah tenggelam dalam diri Tuhan. Pada maqam ini, dia akan mengenal dirinya yang hakiki, dirinya yang universal, dan dengan demikian mengenal sungguh-sungguh asal kerohaniannya.

`Attar bersyair indah:

Melalui kesukaran dan kehinaan jiwanya burung-burung itu pun susut
Lantas hapus (fana'), sedangkan tubuh mereka menjelma debu

Setelah dimurnikan maka mereka pun menerima hidup baru

Dari limpahan Cahaya Tuhan di hadirat-Nya

Sekali lagi mereka menjadi hamba-hamba- Nya dengan jiwa segar

Sekali lagi di jalan lain mereka binasa dalam ketakjuban

Perbuatan dan diam mereka di masa lalu telah dienyahkan

Dan disingkirkan dari lubuk hati serta dada mereka

Matahari Kehampiran bersinar terang dari diri mereka

Jiwa mereka diterangi semua oleh cahanya

Dalam pantulan wajah tiga puluh (si-murgh)

Mereka lantas menyaksikan wajah Simurgh yang sebenarnya
Apabila mereka memandang, yang tampak hanya Simurgh:

Tak diragukan Simurgh ialah tiga puluh ekor burung

Semua bingung penuh keheranan, tak tahu apa mereka ini atau itu.

Mereka memandang diri mereka tak lain adalah Simurgh.

Pada bagian lain `Attar menyatakan:

Bebaskan dirimu dari segala yang kaumiliki
Campakkan semua dari sisimu satu demi satu

Lantas asingkan dirimu secara rohani dari dunia

Apabila batinmu telah menyatu dengan kefakiran

Kau akan bebas dari kebaikan dan keburukan

Dan jika kebaikan dan keburukan telah kaulalui

Kau akan menjadi seorang pencinta

Referensi:

Bayat, Mojdeh, dkk., Para Sufi Agung: Kisah Dan Legenda, Yogyakarta: Pustaka Sufi, 2003.

Muryanto, Sri, Ajaran Manunggaling Kawula-Gusti, Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2007.

Hadi WM, Abdul, Sastra Islam I: Karya-Karya Klasik Terpilih Dari Sastra Arab Dan Persia, Jakarta: Paramadina, 2006.

_______, Sastra Sufi: Sebuah Antologi, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1985.

Jumat, 26 Februari 2010

Memilih Projector Multifungsi

Saat anda memilih atau Sewa Multimedia proyektor ada 5 komponen utama yang perlu dipertimbangkan dan diperhatikan:
1. Pencahayaan/Brightness: Satuan ukurannya ANSI Lumens atau biasanya disebut Lumens saja. Semakin besar Lumens, maka semakin terang gambar yang diproyeksikan. Semakin terang suatu ruangan, maka semakin tinggi tingkat Lumens yang diperlukan.
2. Resolusi: Pengukuran Resolusi proyektor sama dengan Monitor PC. Semakin besar resolusi, tentunya semakin besar ukuran layar dan akan banyak yang bisa ditampilkan. Ukuran 800x600
3. Contrast Rasio: Contrast Rasio berguna untuk mengukur bagian tergelap dan warna hitam, dan bagian paling terang dan warna putih yang terproyeksikan. Contrast Rasio berfungsi untuk memperkirakan tingkat cahaya proyektor untuk semua jenis kondisi cahaya ruangan
4. Bobot: Jika anda bakal sering membawanya, pilih yang yang ringan, berbobot 2 kilogram sudah cukup. Jika hanya disimpan dalam ruangan rapat, yang berat namun berkekuatan tinggi pun sah-sah saja
5. Fitur: Kalau jaringan PC di kantor sudah tanpa kabel, piranti berfasilitas wireless dipilih agar ruangannya tidak ruwet oleh kabel, Namun untuk power supply tetap menggunakan kabel listrik. Sebagai pendukung DVD Player, cobalah fasilitas wide screen aspect ratio 16:9
Semoga bermanfaat dan anda dapat memilih atau Sewa Multi

media projector yang tepat.

Panduan Memilih Projector

Fitur-fitur proyektor yang perlu Dipertimbangkan pada saat membeli atau Sewa Multimedia Equipment.
1. Plug and play. Sebagian besar proyektor portabel masa kini umumnya sudah plug-and-play, user friendly dan bisa di-setting dengan cepat. Pokoknya, yang Anda butuhkan di tempat presentasi hanyalah soket listrik. Tancapkan ke soket listrik, proyektor Anda pun siap digunakan.
2. Fitur-fitur tambahan. Perlu diingat bahwa ada fitur-fitur khusus yang mungkin bisa memenuhi kebutuhan spesifik Anda. Fitur-fitur yang bisa menjadi pertimbangan, antara lain:
* Memory card, yang dapat menggantikan peran notebook dalam menyimpan bahan presentasi. * Nirkabel (wireless) untuk mempermudah set-up. * Kemampuan networking untuk pengoperasian dari tempat lain yang berjauhan. * Digital keystone correction, untuk meningkatkan fleksibilitas penempatan proyektor. * Input video komponen untuk kualitas video yang lebih baik. * Lens shift, untuk set-up yang lebih nyaman.
3. LCD Eliminasi Efek Pelangi
Gambar yang jernih, seindah warna aslinya, detail yang jelas, atau video yang tampil seperti aslinya tentu akan lebih menarik untuk dinikmati. Teknologi 3LCD memungkinkan hal-hal tersebut, sekaligus mengeliminasi efek pelangi (rainbow effect) yang kerap dikeluhkan para pengguna proyektor LCD biasa.
Sama-sama menempelkan kata “LCD”, teknologi 3LCD bekerja dengan cara yang agak berbeda dengan LCD. Sesuai namanya, ada 3 chip pada teknologi 3LCD. Begini cara kerjanya. Sinar putih diproyeksikan sumber cahaya ke cermin-cermin dichroic yang bertugas memecah sinar menjadi warna-warna dasar, yakni merah, hijau, dan biru. Ketiga warna ini lantas diproses oleh 3 chip LCD, sebelum dilewatkan melalui prisma dichroic dan lensa. Bedanya dengan LCD? Hanya ada satu chip di proyektor LCD dan rotating color wheel yang diputar dengan sangat cepat. Yang terakhir ini menyebabkan terjadinya color break-up (pecah warna) dan berbuntut pada rainbow effect. Proyektor yang menggunakan teknologi 3LCD memiliki kelebihan dalam pencahayaan dan gambar yang alami sehingga lebih nyaman dilihat
Hal lain adalah debu. Proyektor – seperti juga berbagai perangkat elektronik lainnya – bagaikan magnet bagi debu. Arus listrik dan panas adalah kombinasi yang pas untuk memancing datangnya debu dan minyak. Tumpukan debu ini akan menjadi masalah serius ketika komponen utama mulai dihinggapinya. Untungnya 3LCD proyektor datang dengan filter udara yang mudah diganti-ganti (replaceable). Ketika permukaan filter udara – yang bertugas memerangkap kotoran – sudah kotor, pengguna bisa segera menggantinya tanpa harus repot bongkar-bongkar proyektor.
Konten high definition yang mulai “harum” belakangan ini menjadikan kualitas output sebagai hal penting dalam bisnis proyektor. Kalau selama ini pengguna tak punya petunjuk sama sekali tentang kualitas proyektor yang dipakainya, sekarang ada Color Light Output. Fasilitas ini adalah cara sederhana, mudah, tapi akurat untuk mengukur kualitas gambar yang dihasilkan sebuah proyektor. Menurut TFC Associates (sebuah perusahaan riset khusus proyektor), salah satu faktor penting dalam membeli proyektor atau Sewa Multimedia Equipment adalah kualitas gambar.

Kamis, 20 Agustus 2009

Hari-hari Korupsi, Hari-hari Memadam Kebakaran

KASUS korupsi dan upaya penanggulangannya di tanah air niscaya membuat setiap orang yang mendengarnya jengah. Predikat Indonesia sebagai salah satu negara paling korup di dunia masih melekat. Tapi coba hitung berapa banyak pelakunya yang berhasil diadili dan dikandangkan ke balik terali besi? Ironis memang. Tapi potret buram dalam penegakan korupsi di Republik tercinta ini, seyogyanya tidak boleh menyurutkan semangat setiap anak negeri, yang masih memiliki sejumput kesadaran untuk memerangi kebatilan, menyerah dan berpangku tangan begitu saja. (Nurchloish Madjid, Suara Merdeka 21 Februari 2004)

PROLOG
Sepotong kata ‘korupsi’ pada hari-hari bangsa ini menjadi kata yang tidak lagi aneh apalagi asing. Kata korupsi sepertinya sudah setara dengan kata makan, beol atau tidur. Ia menjadi behavior bangsa atau mungkin saja sudah ada yang menjadikannya adat istiadat! Ekonomi bangsa ini jadi morat-marit karena mentalitas korup. Hari-hari tanpa korupsi, rasanya tidak lengkap. Bak sayur tanpa garam atau sebaliknya garam yang kekurangan sayur.
Kalau dikatakan ia sudah menyatu dengan kultur bangsa, herannya persekutuan para moralis untuk memberantasnya juga tak pernah padam. Dari zaman orde lama, perang terhadap korupsi sudah digulirkan. Gerakan Bersama Antikorupsi (GEBAK) di masa orde lama, lalu bersambung dengan berbagai gerakan seperti Komisi Wilopo dan gerakan yang dimotori mahasiswa. Peristiwa 15 Januari atau yang dikenal dengan Malari yang itu bagian dari puncak-puncak kemurkaan mahasiswa terhadap prilaku korup yang membudaya di tubuh birokrasi.
Pemerintah juga tak kurang pula ‘basa-basi’nya untuk ikut membersihkan dirinya dari budaya korup. Pada awal orde baru, muncul apa yang dikenal sebagai Opstib (Operasi Tertib) atau bahkan kemudian melebar menjadi lembaga ekstrajudisial seperti Laksus/Kopkamtib. Semuanya diperuntukkan bagi penangkis serangan kelompok antikorupsi versi rakyat, dimana seolah-olah pemerintah juga sama hebatnya dengan rakyat dalam memberangus korupsi.
Kemudian silih berganti tumbuh dan mati lembaga-lembaga pemberantasan korupsi dibentuk pemerintah. Sebut saja Tim Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (TGPTPK) yang dipimpin Adi Andojo Soetjipto. Justru tim itu harus bertekuk lutut di depan hakim judicial review Mahkamah Agung Paulus Effendi Lotulung. TGPTPK dibubarkan.
Sementara korupsi terus berlangsung, di dalam tubuh birokrasi sendiri bukannya tak ada instrumen-instrumen struktural yang menjadi pengawas agar korupsi tak berlangsung. Di tiap departemen dibentuk Inspektur Jenderal, di daerah-daerah terdapat Inspektur Wilayah Provinsi/Kabupaten/Kota. Uang negara yang digunakan untuk memutar roda pembangunan juga diaudit secara periodik oleh BPKP dan secara keseluruhan diperiksa oleh BPK untuk dilaporkan kepada rakyat lewat DPR.
Tetapi apa yang terjadi?
Korupsi bukannya tambah habis, sebaliknya malah kian menjadi-jadi. Lembaga-lembaga pemeringkat internasional bahkan memposisikan Indonesia sebagai negara paling korup di dunia. Sudahlah diperingkat sebagai bangsa terkorup, kita bukannya jadi malu, malah tambah gagah perkasa melakukan korupsi. Dari hari ke hari kasus-kasus korupsi termutakhir terus bermunculan dan terungkap. Bahkan dari lembaga-lembaga yang kita sangka sebagai lembaga yang bersih (dan harusnya bersih) ternyata di situ koruptor bersarang. Sebutlah kasus KPU Pusat, kasus dana haji di Departemen Agama, kasus sogok menyogok di Mahkamah Agung, Kasus ditemukannya rekening ratusan miliar rupiah milik belasan perwira Polri, kasus DPRD berbagai provinsi, kabupaten dan kota serta kasus korupsi yang melibatkan para kepala daerah. Semuanya membuat kita geleng-geleng kepala dan nyaris tak percaya kalau mereka-mereka itu berbuat hal yang amat tercela itu.
Sejumlah perkara korupsi memang sudah dipalukan majelis hakim, koruptornya sudah dibui. Eddy Tansil bos Golden Key Group yang membobol Bapindo (kini dimerger dengan Bank Mandiri) pada 1994 diganjar 15 tahun penjara, sekalipun kemudian dia kabur entah kemana. Jauh sebelum itu di masa orde baru, Budiaji, pejabat Bulog juga diganjar penjara. Dicky Iskandardinata yang membobol Bank Duta juga menginap di penjara.
Tapi semua ganjaran-ganjaran itu agaknya belum memberikan efek jera kepada para koruptor lain. Sehingga korupsi bukannya menghilang, malah bertambah subur. Ia (korupsi) sudah jadi kenyataan hidup.
“Dewasa ini korupsi sudah dianggap sebagai kenyataan hidup. Korupsi justru dianggap sebagai salah satu bentuk surviving in life. Pengusaha kalau tidak melakukan korupsi, kolusi dan nepotsime, tidak akan bisa mendapatkan proyek, mekanisme tender yang tidak transparan sehingga mengundang pengusaha untuk memberi pelicin, mengurus surat-surat di kelurahan atau instansi lainnya kalau tanpa uang tidak akan cepat selesai, mau masuk AKABRI kabarnya juga harus menyogok, bahkan menaikkan nilai raport bisa juga dengan uang dan masih banyak contoh lainnya” (Teten Masduki: Mendia Transparansi 1999)

Hari-hari Korupsi
Bagaimana korupsi berlangsung begitu hebat dan nyaris dilakukan tanpa kecemasan yang tinggi?
Ini pertanyaan yang sesungguhnya sudah lama diajukan oleh orang asing. Sama halnya dengan keheranan orang asing terhadap pegawai negeri yang hanya bergolongan III tapi punya dua mobil, rumah bagus, anak-anak disekolahkan ke luar negeri.
Kalau ada pertanyaan: ‘Dari mana datangnya korupsi?’ jawabannya langsung sepantun bidal lama ‘Dari hati turun ke kata’
Semua dimuarakan ke kata. Lalu, jadi! Maka jadilah dia lakukan korupsi. Dan semuanya berhulu di hati. Saya menyerahkan kepada publik apakah yang dimaksud hati itu bisa diterjemahkan menjadi moral, moralitas atau mental. Yang jelas korupsi bermula dari situ. Dari adanya niat untuk memperkaya diri dan memperkaya orang lain dan atau mempergunakan kewenangan yang ada padanya.
Ada satu perselingkuhan segitiga yang hebat yang menyuburkan semangat kleptomania ini. Perselingkuhan antara korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) telah berlangsung sejak lama. Para sejarawan menengarainya sudah ada sejak zaman Belanda. Untuk bisa melakukan korupsi lebih lancar memang menggunakan dua ‘sejawat’ lainnya yakni kolusi dan nepotisme. Sebab melakukan korupsi sendiri dianggap ‘terlalu berani’ meskipun hasilnya besar. Para koruptor agaknya menganggap lebih baik hasilnya ‘tidak bulat’ asal resikonya bisa dibagi dengan teman. Maka hasil jarahan uang rakyat tadi dibagi kepada kolutor dan napotist.
Medan permainan korupsi bisa berlangsung di kegiatan proyek negara, pengelolaan dana negara untuk kepentingan internal dan pada situasi dimana ada pelayanan dan pengawasan publik.
Pada proyek-proyek negara pola permainan terjadi antara pemborong, pemimpin proyek dan pemimpin unit kerja. Awalnya bisa berasal dari koruptor, bisa dari kolutor bisa dari para nepotist. Di sini teramat besar peluangnya.
Hasil survei terhadap kantor pemerintah yang dilakukan tahun 1999/2000 oleh Institute for Policy and Community Development Studies menyebutkan, pejabat yang membuat peraturan dan pejabat yang bertanggung jawab dalam pembelian adalah pejabat publik yang paling banyak melakukan korupsi besar-besaran. Di peringkat berikutnya, pejabat yang memberikan pelayanan, para menteri, dan anggota parlemen termasuk sebagai pihak yang diperkirakan melakukan korupsi besar-besaran. (Vincentia Hanny S, Kompas, 16 Agustus 2005)
Ambil contoh sebuah proyek pengadaan komputer di sebuah kantor pemerintah. Jika permulaan korupsi itu dari seorang nepotist, maka Mr X yang mempunyai hubungan keluarga atau perkoncoan dengan pemimpin unit kerja di kantor itu akan menggarapnya sejak proyek itu dirancang. Kalau perlu ia ‘membelanjai’ para penyusun anggaran saat digodok di tingkat Bappeda sampai ke DPRD. Tujuannya adalah agar proyek pengadaan komputer tadi digolkan dengan spesifikasi yang hanya perusahaan milik nepotist saja yang bisa melaksanakan. Dari situ nepotist sudah melahirkan kolutor-kolutor baru.
Anggaran disetujui, berarti proyek tadi masuk dalam kolom rencana kegiatan pada kantor tersebut. Urusannya sekarang adalah bagaimana agar proyek itu bisa jatuh ke tangan nepotist. Ada Keppres yang mengatur tentang pengadaan barang dan jasa untuk pemerintah. Jika di atas Rp50 juta harus ditender. Nah banyak cara yang digunakan nepotist. Pertama mengupayakan proyek itu dipecah sehingga besarannya menjadi di bawah Rp50 juta. Yang lain dilakukan dengan penunjukan langsung (PL) dimana syaratnya bahwa barangnya langka, tingkat kesulitan tinggi, darurat dan sebagainya. Trik lainnya adalah tetap menggelar tender, tetapi peserta yang diundang tender adalah semuanya kelompok perusahaan sang nepotist. Syarat tender itu harus diumumkan di koran-koran itu gampang diatur. Cari koran yang hidupnya megap-megap dan oplagnya tidak besar. Muatlah iklan itu pada tubuh berita, sehingga tidak menonjol, kalau perlu ukurannya kecil saja.
Sekarang urusannya adalah dengan sang koruptor. Aturan dibuat. Nilai proyek diatur hanya nol koma nol sekian persen saja di bawah plafon anggaran atau hanya beberapa ribu rupiah saja di bawah harga Owner Estimet (OE).
Praktik umum yang berlaku adalah harga itu harus digelembungkan sampai 41,5 persen atau kalau mau nekat sampai 50 persen. Hitung-hitungannya adalah 11,5 persen pajak-pajak, untuk orang dalam (koruptor cs) 10 persen, untuk para kolutor (perencana proyek, panitia anggaran di DPRD, kalau perlu untuk orang di Ditjen Anggaran) 10 persen. Nah sisanya 10 persen adalah keuntungan bersih sang nepotist yang bertindak sebagai pemborong. Jika mark-up sampai 50 persen dari harga pasar maka, itu akan digunakan pula untuk pembiayaan after sale. Berbagai kegiatan sang koruptor dan kolutor perlu juga ‘dibantu’ oleh pemborong. Mulai dari tiket pesawat, biaya pesta pernikahan anak, perbaikan mobil sampai biaya entertain bagi tamu-tamu sang pejabat.
Agar pada tahun berikutnya proyek tidak berhenti mengalir, maka urutan-urutan pekerjaan seperti di atas akan diulangi lagi. Sebanyak mungkin harus dibuat chanel ke pimpinan unit kerja. Caranya macam-macam, dari ikut main golf, tenis sampai pura-pura dermawan menyumbang untuk kegiatan pembangunan.
Permainan yang juga tak kalah dahsyat adalah pola ‘kerja dulu bayar belakangan’. Di sini yang jadi pemain adalah para pemborong dengan kualifikasi besar. Mereka yang punya modal besar akan mendapat yang terbesar. Proyek yang bernilai miliaran bisa dikerjakan dulu Mr X. Sekalipun proyek itu belum dimasukkan dalam Daftar Isian Proyek. Ini amat cerdik, karena pemberi anggaran benar-benar berada dalam situasi di fait a comply. Walhasil, proyek itu dibayar juga sesuai dengan kehendak para pemain tadi. Supaya yang memberi anggaran tidak banyak cing cong, ia juga harus dimasukkan dalam daftar 42,5 persen.
Lalu, korupsi yang medannya berlangsung pada anggaran internal pemerintah? Ini memang sulit terendus publik. Misalnya dana operasi sebuah unit kerja. Dari atas dianggarkan Rp1 miliar. Tapi ibarat aliran listrik dan air dalam pipa, losses juga terjadi. Ia ‘mengendap’ di pipa atau di kabel listrik.
Dana Rp1 M diturunkan ke bawah ke tingkat provinsi via Kanwil Anggaran mulai berkurang beberapa persen, tapi di atas kertas tetap Rp1 miliar. Dan jumlahnya makin berkurang sampai di kas provinsi. Dari provinsi turun ke Kabupaten, menyusut lagi jumlahnya karena sejumlah saluran yang melewatinya ikut membuatnya ‘hilang di jalan’. Begitulah perjalanan berat dana dari pusat tadi sampai ke ujung keran tinggal menetes. Malah ada yang kemudian tak mengalir sama sekali. Oleh pihak atasan anak buah diperintah untuk ‘pandai-pandai’ saja melaksanakan tugas dengan anggaran yang ada.
Kondisi seperti ini kemudian melahirkan medan korupsi baru di tingkat bawah. Pada hampir semua unit kerja yang memberikan pelayanan umum hal itu terjadi, begitu juga pada lembaga pengawasan tingkat bawahan. Alasannya apalagi kalu bukan minimnya anggaran dari pusat.
Dimana ada pelayanan publik dan pengawasan di situ sangat terbuka lebar korupsi. Pada tingkat ini KKN tidak saja dilakukan aparat, tetapi juga oleh masyarakat. Masyarakat yang sering mendelik melihat para birokrat melakukan korupsi, sesungguhnya juga melakukan korupsi.
Lihatlah saat pengurusan SIM (Surat Izin Mengemudi) Dalam kondisi ideal, seorang yang akan mengurus SIM harus melengkapi syarat-syarat seperti KTP, tidak buta warna, berusia cukup dan lulus test mengemudi serta test pengetahuan kelalulintasan yang diselenggarakan Polri.
Tapi yang terjadi apa? Orang-orang buta warna, mereka yang tidak layak mengemudikan angkutan umum, mereka yang tidak diuji justru diberikan SIM. Caranya? Apalagi kalau bukan dibeli. Keinginan mendapatkan SIM mengalahkan keinginan untuk hidup bersih sdan menempuh cara yang bersih. Maka jadilah, disediakan sejumlah uang yang bisa mencapai lima kali tarif resmi pembuatan SIM. Masyarakat ikut melakukan korupsi bersama-sama dengan polisi. Bayangkanlah, bahwa itu juga dilakukan oleh orang-orang yang mestinya taat hukum.
Di jalanan, ketika terjadi pelanggaran lalu lintas, seseorang tertangkap tangan oleh polisi tak punya SIM. Mestinya dia diadili dan membayar denda kepada negara. Tetapi masyarakat lebih cenderung memilih membayar kepada oknum polisi yang menangkapnya. Alasannya, terlalu repot ke pengadilan. Uangpun mengalir ke kantong oknum polisi.
Seseorang yang terlibat kasus penadahan (pasal 480 KUHP) bisa ‘aman’ setelah membayar sejumlah uang kepada oknum polisi. Tapi jangan pikir dia aman selamanya. Setiap saat oknum polisi itu bisa saja meneleponnya sambil mengingatkan kasus yang dulu. Agar tak lagi ditelepon, maka sediakan lagi segepok uang.
Di birokrasi yang lain pengurusan surat-surat, sertifikasi tanah, segala macam perizinan, pegawai yang mengurus naik pangkat kepada temannya sesama pegawai, pegawai yang hendak melanjutkan pendidikan, polisi dan tentara yang akan sekolah ke Secapa, Secaba, Suslapa, PTIK dan sebagainya tak lepas dari pungutan. Ini benar-benar bisa kita sebut bagai jeruk makan jeruk.
Di tempat-tempat umum, para pemalak yang terdiri dari para preman memungut uang takut kepada para pedagang.
Di sekolah-sekolah korupsi juga sudah diajarkan. Guru-guru dengan halus ‘memaksa’ murid membeli buku yang disodorkan penerbit. Misalnya sekolah di Sumatra Barat. Asal bukunya bisa dipakai di sekolah itu, sang penerbit memberikan bonus kepada masing-masing guru di sekolah itu berupa paket perjalana wisata ke Malaysia dan Singapura senilai Rp2,5 juta. Kalau guru berjumlah 70 orang berarti penerbit memberikan Rp175.000.000. Belum lagi untuk Kepala Sekolah dan pejabnat di Dinas Pendidikan. Bisa diperkirakan sekitar Rp200 juta disediakan penerbit asal buku mereka dipakai. Sekilas, kelihatannya itu bagus untuk memperhatikan nasib guru. Tapi kalau dihitung dana Rp200 juta tadi bisa membiayai buku seluruh siswa di sekolah tersebut. Pertanyaannya: berapa keuntungan penerbit? Dan berapa kali lipat harga buku digelembungkan?
Praktik korupsi tingkat bawah juga berlangsung saat masyarakat harus menyetor uang untuk negara. Misalnya ketika harus membayar pajak kendaraan. Lihatlah, pajak yang tertera di STNK sesungguhnya tidak dibayar rakyat menurut harga itu. Ada banyak pungutan lain. Sebuah pertanyaan bagus lagi: “Kita mau mempertebal kocek negara, tetapi begitu sulitnyakah?”
Begitulah, negeri yang subur makmur ini dimana tongkat kayu dan batu jadi tanaman, ternyata korupsi yang tidak ditanampun suburnya sama dengan tanaman yang sengaja ditanam.

Kita Senantiasa Jadi Pemadam Kebakaran
Sebegitu jauh perlombaan mengeruk uang negara ini, apakah tidak akan ada perhentiannya?
Kita adalah bangsa yang sedang lucu-lucunya. Setengah hati begitu murka melihat perilaku korup sudah jadi budaya. Setengah hati yang lain justru berusaha terus mencari celah dimana bisa mengambil langkah penumpukan uang dalam waktu cepat sambil melintasi aturan hukum. Kita masih suka berkelit diantara berondongan semangat antikorupsi.
Kita sebut lucu, lantaran dua semangat itu sama-sama mengedepan dalam bangsa ini. Tiap hari ada saja demonstrasi dan unjukrasa mahasiswa dan LSM ke parlemen agar segera menghentikan korupsi. Di sisi lain tiba-tiba bermunculan temuan-temuan korupsi yang tiada kita sangka. Sementara di tengah rakyat jelata, korupsi juga tak kalah serunya.
Upaya penghentian korupsi selama ini senantiasa kita terjemahkan dengan menggaruk para pelaku korupsi di tingkat birokrasi maupun di tingkat rekanan pemerintah. Seolah-olah pemberantasan korupsi adalah upaya memperpanjang daftar tunggu sidang pengadilan korupsi saja. Atau dengan menambah lembaga-lembaga baru seperti KPK, Ombudsman dan sejenisnya.
Sebanyak korutor disidangkan, sebanyak itu pula yang tumbuh subur tanpa rasa cemas dan jera dengan sidang-sidang yang dilakukan atas koruptor lain. Tiap hari koran-koran memberitakan temuan-temuan kelompok penyelidik korupsi dan terus menggiringnya ke pemberitaan dimana para pelaku akhirnya diadili dan dihukum.
Sampai di situ memang harus kita acungi jempol upaya pemberantasan korupsi. Sebab sudah ada pergeseran dari yang tadinya masuk kategori untouchable sekarang sudah tidak lagi ditakuti alias bisa dipegang. Dulu Mabes Polri mana boleh diusik, sekarang para pelaku illegal logging, pembeking judi, penyimpan dana haram di tubuh Polri mulai disingkap. Pembelian persenjataan TNI dulu mana boleh diganggu. Sekarang tak masalah. Tank Scorpion yang dipasok Mbak Tutut dipermasalahkan, pembelian Heli oleh Gubernur Puteh dibuka. Ketua KPU yang semula dikenal bersih akhirnya dibui. Akbar Tandjung pernah jadi orang dekat Soeharto, diadili. Begitu juga dengan Ginanjar Kartasasmita, sejumlah Gubernur, Bupati dan Walikota serta para politisi yang tadinya amat vokal menyuarakan perang terhadap korupsi.
Boleh! Boleh kita acungkan jempol untuk itu. Tetapi sekali lagi, makin berkurangkah prilaku korup bangsa ini? Sudah adakah yang berani lantang dijalan-jalan mempersilahkan polisi menahan SIM mereka karena terbukti melanggar aturan lalulintas? Sudah adakah bendaharawan yang menolak angpaw dari para rekanan pemerintah? Sudah berhentikah kita menyertakan ‘sesuatu’ di balik berkas administrasi yang tak lengkap saat mengurus izin bangunan di kantor pemerintah? Sudah berhentikan pemborong mengatur tender proyek? Sudah amankan para pegawai yang hendak naik pangkat dari tindakan pungli para pejabat di atasnya? Dan sudah berhentikan setoran-setoran dari bawahan kepada atasan?
Jawaban atas semua pertanyaan itu adalah: belum!
Yang terjadi sebenarnya kita masih bergumul memadamkan api. Kita sedikit sekali melakukan usaha-usaha yang bersifat preventif edukatif. Kita tidak menghambat api tercetus, sebaliknya baru kerepotan setelah api menyala besar menghanguskan segalanya.
Perangkat-perangkat suprastruktur kita tidak banyak yang memberikan sinyal kepada semua aparatur dan masyarakat untuk tidak berbuat korup.

Kambing Hitam yang Mengerikan
Dari uraian di atas, perlu kita telisik sebenarnya dari mana harus memulai memperbaiki bangsa ini dari kubangan korupsi. Ibarat tubuh, semuanya memang serba sakit. Kepala berdenyut, kerongkongan perih, bahu ngilu-ngilu, dada sesak, perut melilit, pinggang serasa mau putus, lutut berdenyut.
Kembali pada bidal tua yang terpeleset tadi : “Dari mana datangnya Korupsi, dari hati turun ke Kata”
Kata adalah perujudan dari keputusan untuk melakukan korupsi dengan sadar. Hati adalah sarang dimana terkandung niat untuk melakukannya.
Kita kira dengan sederhana dapat dikatakan bahwa kalau kita mau, korupsi bisa habis. Kalau kita tidak mau, ya memang dia tidak mau habis.
Sebagian masih ada yang berdalih sambil mencari kambing hitam kenapa korupsi masih belum terkikis. Kambing hitam itu sepertinya amat mengerikan dari penjara. Buktinya, itu lebih ditakuti dibanding hukum. Kambing hitam itu adalah kecilnya gaji pegawai negeri hingga sering tergoda untuk korup. Tapi apa benar?
Jadi kalau kita sebut tadi kambing hitam yang mengerikan, memang tak bisa kita pungkiri. Pegawai kecil dari daerah disuruh berdinas ke Jakarta mengurus sesuatu, seharinya hanya dengan uang jalan Rp200 ribu. Di situ sudah termasuk hotel, makan, transportasi di Jakarta. Tapi sang pegawai tetap jalan dan melaksanakan tugas. Malah dengan sangat gembira, sekalipun semua orang tahu jumlah itu sangat jauh dari cukup.
Apa pasal yang membuat dia bisa tenang? Bersamaan dengan keberangkatannya, ia membawa surat perjalanan dinas untuk dirinya……dan untuk sejumlah teman-teman bahkan atasannya sendiri. Dengan bekal setumpuk surat perjalanan dinas itu ia tinggal meminta paraf dan stempel Departemen yang ditujunya. Sebutlah ia membawa 20 lembar SPJ, maka setiba di daerahnya nanti, SPJ itu diuangkan, ia akan mendapat imbalan sampai sepertiga dari masing-masing SPJ.
Kambing hitam berikutnya adalah penyutan-penyunatan dari tingkat atas. Ambil contoh, dana pengusutan satu perkara di tubuh Polri tak sampai Rp100 ribu. Andaipun dana itu ada, sering tidak sampai ke tangah anggota Buser yang akan mencangkap penjahat. Dari Padang, sang penjahat sudah diketahui lari ke Jakarta. Bisakah menangkapnya dengan anggaran Rp100 ribu?
Maka jangan heran kalau ada kasus-kasus yang menghendaki perburuan sampai ke luiar daerah, polisi malah ‘berburu’ dulu ke kantong-kantong bandar judi, penjual minuman keras, tempat pelacuran maupun kepada orang-orang tertentu yang sengaja dilindungi mereka selama ini.
Pada tingkat birokrasi sipil, dana operasi yang mestinya diturunkan untuk pihak ketiga, lalu disunat dari atas. Akibatnya di bawah, sang bawahan pun main sunat. Saat kepala-kepala desa mengambil dana Bantuan Desa ke kantor Bupati, biasanya tak utuh mereka terima sebagaimana tertera di kuitansi. Sudah ada saja daftar potongannya. Jadi jangan heran kalau Kepala Desa pun ikut memainkan dana itu.
Lalu para pemborong tetap berlenggang kangkung masuk kantor-kantor pejabat menangguk uang dengan cara yang tidak fair.
Begitulah, selama ini kita masih bergumul untuk memadamkan api yang membesar, kita melupakan sumber-sumber api. Kita kurang care dengan upaya-upaya preventif. Saat demam berdarah berjangkit, kita baru buru-buru teringat memberantas sarang nyamuk.
Yang jelas soal kecilnya gaji pegawai bukanlah satu-satunya alasan kuat untuk menjustifikasi merajalelanya korupsi. Dan itupun masih perlu diperdebatkan, apakah ia layak jadi kambing hitam atau hanya alasan untuk justifikasi korupsi.
Sebuah penelitian yang dibuat Bank Dunia mementahkan tesis gaji rendah itu. Sebagaimana dikutip dari Buku Kerja Bank Dunia No.2226/2001 penelitian Bank Dunia menyebutkan bahwa tak cukup kuat alasan menyebutkan rendadhnya gaji PNS membuat korupsi merajalela.
PNS dengan golongan III pemegang jabatan Kepala Bagian di Kantor Bupati setiap bulannya sudah bisa membawa pulang gaji plus tunjangan lebih Rp2 juta. Apakah tidak cukup layak dibanding pegawai swasta yang disyaratkan tak boleh di bawah Upah Minimum Provinsi (berbeda untuk setiap provinsi, tapi rata-rata Rp600 ribu/bulan)
Ini bermakna bahwa, tanpa korupsi, seorasng pegawai negeri bisa hidup layak. Kalau begitu korupsi lebih banyak disebabkan oleh semangat ketidak adilan, tuntutan hidup hedonisme dan kesimpulan dari itu adalah soal moral belaka.

Pakta Integritas
Pada akhirnya jika memang korupsi dimulai dari hati dari moralitas, maka hati yang harus dicegah tidak memiliki niat untuk korupsi. Ini memang gampang mengucapkannya, tapi berat untuk melaksanakannya.
Kita mulai dari penerapan reward and punishment yang adil dalam tubuh birokrasi. Kalau yang kita lihat sekarang setiap kali ada kasus korupsi orang habis-habisan menghajar pelakunya dengan hukuman moral, sejak diberitakan terlibat sampai masuk penjara.
Tetapi perlu keseimbangan berupa reward bagi yang bekerja amat baik dan termasuk yang sangat antikorupsi. Ada juga sih pemberian reward kepada para birokrat antikorupsi seperti yang diraih oleh Bupati Solok Gamawan Fauzi yang mendapat anugerah Antikorupsi dari ICW. Tapi dari lembaga pemerintah sendiri, apa yang diperoleh Gamawan?
Celah-celah kecil korupsi yang berlangsung di tingkat pelayanan umum perlu kita tutup pula dengan pemberian reward and punishment yang adil. Misalnya, pelayanan tidak tepat waktu harus dikenakan denda kepada petugas di kounter pelayanan umum. Dengan demikian kalaupun rakyat membayar mahal, tetap ada jaminan pelayanan dilakukan dengan cepat dan cermat.
Lalu tindakan-tindakan pengawasan yang dilakukan BPKP sering kita curigai sebagai upaya menutup-nutupi temuan. Tiap kali BPKP diminta penjelasannya oleh pers selalu saja mereka berkelit bahwa BPKP tidak memiliki kewenangan untuk membuka hasil temuannya ke publik, bahkan tidak juga ke DPRD sekalipun. Tak heran kemudian muncul kecurigaan lanjutan bahwa sesungguhnya BPKP itu benar-benar memeriksa atau ‘memeriksa’?
Di masa datang, perlu keterbukaan terhadap hasil-hasil temuan BPKP. Hingga mereka yang namanya masuk dalam daftar BPKP tadi diumumkan pers, paling tidak bisa membikin jera yang lain.
Tindakan lain yang perlu dilakukan adalah menyosialisasikan apa yang dikenal dengan Integrity Pact atau dalam bahasa Indonesia disebut Pakta Integritas. Cara ini adalah membuat semacam kesepakatan kejujuran antara kedua pihak yang akan telibat kerjasama. Antara pejabat baru dengan publik, antara pemberi pekerjaan kepada penerima pekerjaan, antara pimpro dengan pemborong dan seterusnya.
Setiap kali akan memulai pekerjaan yang berhubungan dengan uang, semua yang terlibat haruslah terlebih dulu menandatangani kesepakatan kejujuran itu.
Pakta Integritas adalah instrumen yang dibuat pertama kali oleh Transparency International, untuk mencoba mengikis korupsi di birokrasi dan masyarakat. Instrumen ini akhirnya amat efektif ketika diterapkan di Kolombia, Pakistan dan Korea Selatan. Di Indonesia, misalnya di Kabupaten Solok Sumatra Barat, Paktar Integritas diterapkan di Solok dan diadopsi dari Korea Selatan.
Dengan Pakta Integritas diharapkan sebelum mulai atau sebelum terlanjur, orang sudah diingatkan akan adanya ‘bahaya’ berupa jerat hukum. Paling tidak antara pemberi kerja dengan penerima kerja sudah sama-sama ‘kikuk’ untuk saling mengedipkan mata dan saling ‘berpegangan tangan’ di kolong meja.
Maka memperbaiki sistem reward and punishment birokrasi, menerapkan Pakta Integritas, membuka hasil temuan lembaga pengawasan, memperbaiki sistem gaji, meluruskan niat atasan terhadap bawahan adalah jalan-jalan menuju pemberantasan korupsi lewat ‘pemadaman sumber-sumber api’. Di situ upaya preventif mencegah korupsi sudah nyata.

Kesimpulan
Konklusi apa yang dapat ditarik dari paparan di atas? Paling tidak dapat kita gambarkan sebagai berikut:
1. Korupsi tetap tumbuh kembang dengan subur sekalipun makin kuat pula semangat antikorupsi di tengah masyarakat.
2. Perselingkuhan koruptor dengan kolutor dan kaum nepotist makin mempersubur kejahatan kerah putih ini.
3. Terjadi ketidakseimbangan antara upaya pemberantasan dengan dibukanya kesempatan korupsi.
4. Kita masih bergumul dengan upaya perburuan terhadap kasus-kasus korupsi besar, tapi tidak banyak bergerak untuk menangkalnya lewat berbagai perangkat suprastruktur seperti pemberlakuan Pakta Integritas di setiap tingkat dan cabang birokrasi pemerintah.
5. Aparat pengawasan masih menutup-nutupi temuan mereka sehingga muncul kecurigaan jangan-jangan lembaga pengawas ikut bermain dengan pihak yang diperiksa.
6. Hukuman yang dijatuhkan belum membikin efek jera, masih lebih banyak hanya ditujukan kepada pengembalian kerugian negara.

Saran-saran
Dari kesimpulan yang kita tarik di atas, perlu sejumlah saran dikemukan di sini kalau memang kita hendak menjadikan korupsi sebagai musuh bersama, sebagai common enemy.
Pertama, perlu perbaikan suprastruktur yang mengatur praktik birokrasi terhindar dari peluang-peluang munculnya KKN, agar kita tak hanya berkonsentrasi menyidangkan koruptor-koruptor melulu.
Kedua, perlu kian luas kampanye antikorupsi termasuk mengumumkan pelaku yang baru saja ditemukan.
Ketiga, perlu perbaikan sistem hukum yang memungkinkan diberlakukannya pembuktian terbalik terhadap temuan korupsi.
Keempat, perlu perbaikan sistem penggajian yang berkeadilan dalam tubuh birokrasi.
Kelima, perlu ditumbuhkembangkan Pakta Integritas di setiap tingkat dan cabang birokrasi.
EPILOG
Sebagai penutup, ingin kita maktubkan di sini pendapat budayawan Moctar Loebis. Ketika hidupnya sempat diwawancarai seorang wartawan Suara Muhammadiyah tahun 1989. Sang wartawan mempertanyakan tentang sikap Mochtar yang meragukan hampir semua instrumen pengawasan mulai dari peradilan, kejaksaan, kepolisian, kampus, ulama dan parlemen untuk memberantas korupsi.
Satu-satunya yang jadi harapan Mochtar adalah pers. “Memang harus pers. Saya rasa pers harus lebih berani menghadapi gejala-gejala korupsi. Pers harus bekerjasama dengan masyarakat dan birokrat yang masih bersih, jadi harus ada kekuatan bersama pers dan masyarakat” (Mochtar Loebis: Suara Muhammadiyah, edisi 69 tahun 1989)
Harapan pada pers adalah harapan yang juga perlu dijaga ketat oleh pers itu sendiri, manakala pers mulai masuk dalam palunan industri. Industri adalah biacara untung rugi. Maka di situ ada godaan; memberitakan korupsi atau tidak? (eko yanche edrie)


Sumber : http://ekopadang.wordpress.com/category/esei-hukum